Museum Fatahillah, History of

7 April 2011

museum fatahillah[EN] This is Fatahillah Museum which is located in Jakarta’s Kota Tua (Old Town). Look at the people on the right. They seem to be looking at something. Find out what they are looking at in the next post.

History of Museum Fatahillah

It is located in Jakarta’s Old Town, or in Bahasa Indonesia, it is called Kota Tua. I got familiar with the term Old Town from when I was reading about Vienna. The European city has an Old Town and I thought it was beautiful. I thought it was amazing that European countries have old towns. Then I learnt that Jakarta has also an old town, not as large or as well maintained as its European counterparts, but better than none at all.

In the early years of the Dutch arrival to Batavia (from 1619), the building, that now becomes Museum Fatahillah, was the administrative headquarters of the Dutch East India Company or also known in Dutch as Vereenigde Oost-Indische Compagnie or VOC in short. We learned in our school about the VOC, and we always associated VOC as the early Dutch colonizers. We often mixed up the term with the Dutch government. VOC was in fact a large multi-national corporation in the era.

In 1627, the building became the city hall of Batavia, or as the Dutch called it, Stadhuis. It was later rebuilt starting in 1707 until 1710  to become the building that we see now. Batavia is the old name of Jakarta. In modern Indonesia, the indigenous people of the area of Jakarta is known as Betawi (the current term for Batavia). In the year of 1710, the building was inaugurated by the Governor General of the Dutch Colonial Government, Abraham van Riebeeck.

Indonesia’s national hero, Prince Diponegoro, was imprisoned in a cell underneath the building in 1830. The capture of the rebel prince was through a treacherous means. If I’m not mistaken, the Dutch government was requesting the prince to come for a negotiation under a flag of truce, but under the flag of truce, he was taken prisoner. He spent some time in the Stadhuis of Batavia, then not long after that, Prince Diponegoro was exiled to the island of Sulawesi (either to Menado or Makassar), and remained there until the end of his life. I remember how we loathed the Dutch colonial power of that era when we learnt this part of the history at school.

The historic building became Museum Fatahillah in 1974. It is also known as the Jakarta History Museum. It houses collections of objects of cultural heritage related to the history of Jakarta.

Read Wikipedia about Museum Fatahillah.

[ID] Ini adalah Museum Fatahillah yang berada di Kota Tua, Jakarta. Lihat orang-orang yang berada di kanan. Mereka sepertinya sedang melihat sesuatu. Lihat apa yang mereka perhatikan di post setelah ini.

Sejarah Museum Fatahillah

(Catatan: tranlasi dibawah ini dibuat dengan Google Translate dengan minimal editing)

Museum Fatahillah terletak di Kota Tua Jakarta. Saya akrab dengan istilah Kota Tua dari ketika saya membaca tentang Wina. Kota Eropa memiliki Old Town dan saya pikir itu indah. Saya pikir itu luar biasa bahwa negara-negara Eropa memiliki kota tua. Kemudian saya belajar bahwa Jakarta juga sebuah kota tua, bukan sebagai besar atau dirawat dengan baik rekan-rekan Eropa, tapi lebih baik daripada tidak sama sekali.

Pada tahun-tahun awal kedatangan Belanda ke Batavia (dari 1619), gedung, yang sekarang menjadi Museum Fatahillah, adalah pusat administrasi Perusahaan India Timur Belanda atau juga dikenal di Belanda sebagai Vereenigde Oost-Indische Compagnie atau VOC di singkat. Kami belajar di sekolah kita tentang VOC, dan kita selalu terkait VOC sebagai penjajah Belanda awal. Kita sering mencampur-adukkan panjang dengan pemerintah Belanda. VOC sebenarnya sebuah perusahaan multi-nasional besar di era.

Pada tahun 1627, bangunan menjadi balai kota Batavia, atau sebagai Belanda menyebutnya, Stadhuis. Ia kemudian dibangun kembali mulai tahun 1707 sampai 1710 untuk menjadi bangunan yang kita lihat sekarang.Batavia adalah nama lama Jakarta. Di Indonesia modern, masyarakat adat wilayah Jakarta dikenal sebagai Betawi (istilah saat ini Batavia). Pada tahun 1710, bangunan itu diresmikan oleh Gubernur Jenderal Pemerintah Kolonial Belanda, Abraham van Riebeeck.

Pahlawan nasional Indonesia, Pangeran Diponegoro, dipenjarakan dalam sel bawah gedung pada tahun 1830. Penangkapan pangeran pemberontak itu melalui sarana berbahaya. Jika saya tidak salah, pemerintah Belanda meminta sang pangeran datang untuk negosiasi di bawah bendera gencatan senjata, tetapi di bawah bendera gencatan senjata, ia ditawan. Ia menghabiskan beberapa waktu di Stadhuis Batavia, maka tidak lama setelah itu, Pangeran Diponegoro diasingkan ke Pulau Sulawesi (baik ke Menado atau Makassar), dan tetap di sana sampai akhir hidupnya. Aku ingat bagaimana kita membenci kolonialisme Belanda masa itu ketika kita mempelajari bagian sejarah ini di sekolah.

Bangunan bersejarah menjadi Museum Fatahillah pada tahun 1974. Hal ini juga dikenal sebagai Museum Sejarah Jakarta. Ini rumah koleksi benda-benda cagar budaya yang berhubungan dengan sejarah Jakarta.

Baca di Wikipedia mengenai Museum Fatahillah.

Previous post:

Next post: